Monitoring Candi Borobudur


Perencanaan tata ruang dilakukan untuk menghasilkan rencana umum tata ruang dan rencana rinci tata ruang.Rencana umum tata ruang disusun berdasarkan pendekatan

wilayah administratif dengan muatan substansi mencakup rencana struktur ruang dan rencana pola ruang. Rencana rinci tata ruang disusun berdasarkan pendekatan nilai strategis kawasan dan/atau kegiatan kawasan dengan muatan substansi yang dapat mencakup hingga penetapan blok dan subblok peruntukan. Penyusunan rencana rinci tersebut dimaksudkan sebagai operasionalisasi rencana umum tata ruang dan sebagai dasar penetapan peraturan zonasi. Peraturan zonasi merupakan ketentuan yang mengatur tentang persyaratan pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendaliannya dan disusun untuk setiap blok/zona peruntukan yang penetapan zonanya dalam rencana rinci tata ruang. Rencana rinci tata ruang wilayah kabupaten/kota dan peraturan zonasi yang melengkapi rencana rinci tersebut menjadi salah satu dasar dalam pengendalian pemanfaatan ruang sehingga pemanfaatan ruang dapat dilakukan sesuai dengan rencana umum tata ruang dan rencana rinci tata ruang. (lagi…)

Bangunan candi merupakan peninggalan cagar budaya yang di dalamnya terkandung berbagai aspek ilmu pengetahuan. Salah satu ilmu pengetahuan yang terkandung di dalam bangunan candi adalah ilmu konstruksi bangunan yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan.

Seiring dengan berjalannya waktu, keberadaan Candi terancam punah akibat berbagai macam fenomena alam yang terjadi.salah satu fenomena alam tersebut adalah gempa bumi.

Studi Pengaruh Pola Susun Batu disusun untuk meneliti pengaruh dari fenomena alam tersebut terhadap kestabilan strukturnya. Analisa terhadap bentuk sambungan dan pola susun batu dilakukan dengan metode Statik ekuivalen dan Analisa simplifikasi.

Dari Analisa bentuk sambungan batunya diketahui bahwa bentuk sambungan pada C. Borobudur secara konstruksional merupakan penyempurnaan dari bentuk yang ada pada C. Prambanan, hal ini dapat ditinjau dari jenis yang paling dominan. Sekalipun dinding C. Borobudur yang sekaligus merupakan dinding penahan tanah (retaining wall) yang secara konstruksional menerima gaya horisontal lebih besar dari dinding candi pada umumnya namun ukuran takikannya lebih tipis (dangkal).

Dengan metode Statik ekuivalen dilakukan percobaan laboratorium untuk menentukan pergeseran batu dalam satuan milimeter tiap lapis pada sampel susun batu yang dibuat. Perletakan beban dipakai pada kondisi tanpa beban , 100 Kg dan 200 Kg. Dari percobaan tersebut dihasilkan grafik bahwa pergeseran batu cenderung teratur dan stabil pada kondisi beban maksimal (200) kg. (lagi…)